You need to enable javaScript to run this app.

Cerita tentang Pantai Fatukolo di Fatuleu Barat

Cerita tentang Pantai Fatukolo di Fatuleu Barat

Beberapa waktu lalu, penulis bersama keluarga menyempatkan diri untuk bermalam minggu di bukit Fatukolo yang berada di Dusun V Nekasen, Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang.

Menyaksikan keindahan pantai Fatukolo yang berdampingan dengan bukit Fatukolo, penulis lantas teringat pada tulisan mengenai Pantai Fatukolo yang pernah penulis posting pada blog pribadi beberapa waktu lalu.

Fatu Kolo, Batu tempat Bersembunyi

Ramai dengan keberadaan beberapa batu besar yang berdekatan dalam rentang tak lebih dari 500 meter, pantai yang berada di ujung Desa Poto, kecamatan Fatuleu Barat, kabupaten Kupang – NTT ini disebut sebagai Fatukolo.

Ternyata, tak lepas dari asal – usul katanya, penyebutan Fatukolo juga berasal dari sebuah kisah romantis ratusan tahun lalu yang kini tidak diketahui banyak orang. Jejak kisah ini juga terlalu samar, cenderung penuh bumbu dan sarat imajinasi. Meski begitu, kisah itu tak buruk untuk diceritakan kembali. Setelah kisah tersebut diringkas, begini jadinya:

Beberapa ratus tahun lalu, ketika pihak Amfoan dan Fatuleu berperang akibat persoalan belis dan kawin – mawin, sepasang suami istri memilih menghindari perang dan bersembunyi di antara kedua batu yang saat ini berada di ujung selatan pantai Fatukolo. Sebelumnya, pasangan suami istri itu tinggal di daerah pegunungan wilayah Fatuleu, daerah yang berperang dengan pihak Amfoan. Si suami memilih menghindari perang karena istrinya berasal dari Amfoan.

Selama bersembunyi, mereka mendirikan sebuah ume bubu (rumah bulat, atapnya terlihat seperti kerucut, rumah tradisional atoin meto) di antara kedua batu tersebut. Tidak seperti yang terlihat saat ini, pantai belum menyentuh kedua batu tersebut. Juga, hutan masih begitu lebat sehingga aktifitas mereka, termasuk asap perapian, tidak terlihat dari arah pegunungan.

Sebelum bersembunyi, mereka telah menjalani hubungan pernikahan selama beberapa waktu yang cukup tetapi si istri belum menunjukkan tanda akan segera memiliki anak. Berharap untuk memiliki anak, diam – diam si suami telah memberi sinyal pada salah satu sepupu perempuannya, anak saudara lelaki ibunya, untuk menjadi istri keduanya. Beristri lebih dari seorang merupakan hal yang lazim saat itu. Perang pecah seminggu sebelum acara adat untuk melamar sepupu perempuannya dilaksanakan.

Selama bersembunyi, mereka begitu menikmati suasana kebersamaan dan hubungan perkawinan mereka. Malam – malam ketika bulan purnama, mereka selalu bermesraan di bawah cekungan salah satu batu yang terlihat seperti wajah seekor kera.

Sepintas, batu tersebut terlihat seperti wajah seekor kera.

Kadang – kadang, dibawah siraman cahaya bulan, mereka bercinta di atas bentang salah satu batu yang memiliki beberapa undakan.

Bisa jadi, ini tempat pasangan tersebut bermesraan.

Akhir kisah, ketika perang beberapa tahun itu selesai, mereka kembali ke wilayah pegunungan bersama dua orang anak yang dilahirkan sang istri selama masa bersembunyi. Membatalkan pernikahannya dengan sepupu perempuannya, si suami bersedia membayar denda adat yang terbilang besar. Hingga akhir hidupnya, si suami begitu mencintai istrinya dan memilih untuk tidak memiliki istri yang lain.

Sejak itu, dalam keseharian mereka, anggota keluarga dari pasangan suami istri itu akan menyebut Fatu Ta’kolo’, atau Fatu Na’kol’en yang menyingkat Fatu Na’kolo’en, atau Fatu A’kol’en yang menyingkat Fatu A’kolo’en, jika mereka merujukkan maksudnya pada tempat persembunyian tersebut.

Fatu berarti batu. Ta’kolo’ memiliki maksud sebagai tempat kita bersembunyi. Yang mengucap Fatu Ta’kolo’ merupakan orang atau pelaku yang bersembunyi. Fatu Na’kol’en dan Fatu A’kol’en diucapkan oleh orang lain dan merujukkan maksudnya pada orang yang bersembunyi, yang mereka kenal atau tahu kejadiannya. Misalnya, suami akan menjawab “Au nao ken lus a bi fatu ta’kolo’” yang berarti “saya pergi tembak rusa di batu tempat kita bersembunyi”, pada istrinya yang menanyakan dari mana saja suaminya bepergian.

Seiring perjalanan waktu, penyebutannya berubah menjadi fatu kolo’ dan kemudian berubah bunyi menjadi Fatu Kolo seperti penyebutan saat ini. Bandingkan dengan penyebutan Tal Man yang merujuk pada sungai Tal Man di batas antara Amfoang dan Fatuleu saat ini yang kini berubah penyebutan menjadi sungai atau jembatan Termanu.

Saat menuliskan ringkasan kisah ini, terbersit pikiran untuk mengembangkan semacam  guyon yang bisa diinterpretasikan sebagai mitos yang mengiringi kisah romantis di atas. Misalnya, jika pasangan yang belum memiliki anak meski sudah menikah bertahun – tahun bermesraan di atas undakan batu tempat kedua pasangan ini sering bercinta dibawah sorot bulan, mereka akan segera memiliki anak. Atau, jika pasangan yang sementara berpacaran mengabadikan gambar mereka di tempat yang berhubungan dengan kisah romantis tadi berlangsung, hubungan mereka akan langgeng hingga pelaminan dan bertahan dari gangguan atau pengaruh pihak ketiga.

Asal – Usul Penamaan yang Lebih Diterima

Bapak Mathias Nifu Eki dan Osias Boy, pemuka suku adat Elan, Boy, tuname Nenomana yang tinggal di Desa Poto meragukan kisah romantis di atas sebagai dasar penamaan pantai tersebut.

Menurut mereka, ada dua kemungkinan yang lebih masuk akal. Pertama, disebut Fatukolo yang berasal dari kata Fatu dan Kolo, karena bentuk salah satu batu yang terlihat seperti burung. Kolo artinya burung.

Bentuk batu terlihat seperti seekor burung.

Yang kedua, disebut Fatukolo karena dulu banyak sekali burung Bangau yang sering bertengger di atas beberapa batu di tempat tersebut. Jumlahnya bisa ribuan ekor, sehingga keberadaan mereka menutupi permukaan batu – batu tersebut. Baru beberapa tahun terakhir sejak pantai tersebut terganggu, burung – burung tersebut menghilang.

Beberapa waktu lalu, masih banyak burung yang sering bertengger di atas batu tersebut.

Saat ini, tidak seekor burung pun yang terlihat bertengger di atas batu. Padahal Sepuluh tahun lalu, penulis masih mendapati keberadaan burung – burung yang biasanya memenuhi permukaan batu.

Begitu lingkungan pantai jadi rusak, burung-burung yang sebelumnya banyak jadi menghilang. Begitu penjelasan salah satu gadis manis yang ikut bersama penulis saat itu. Gadis itu juga menegaskan, “jangan ganggu pantai pak, nanti burung hilang.”

Oleh: Simon Seffi, Guru Matematika di SMAN 2 Fatuleu Barat.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Ambrosius Jamon, S.Pd.

- Kepala Sekolah -

Sambutan Kepala SMA Negeri 2 Fatuleu Barat, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten...

Berlangganan